Kamis, Agustus 25

Aku dan Cerita 'Negeri 5 Menara'ku

Menyambung posting-an kemarin, cerita kehidupan ca agak mirip dengan cerita Negeri 5 Menara.

Ca berdarah minang murni. Walaupun ca tinggal di Medan, adat minang masih sangat terasa di keluarga ca. Kami biasa mudik ke kampung setiap lebaran. Yah, ca bisa bahasa minang sedikit2 lah.

Ca "terpaksa" masuk fakultas kedokteran atas permintaan keluarga besar, terutama nenek ca, yang biasa ca panggil Ibuk. Di keluarga kami belum ada dokter, begitu alasan Ibuk.

Ca menjalani kuliah selama 3,5 tahun dan alhamdulillah tamat dengan IPK memusakan (bukan cumlaude yaah). Sekarang lagi menjalani pendidikan profesi dokter atau biasa disebut koas dengan gelar dokter muda.

Saat koas ini terbersit tanya, apa ca ikhlas untuk menjadi seorang dokter?

Jujur ca terkadang kesal dengan ketidakberanian diri untuk menentang keputusan keluargga besar. Tetapi ca udah menerima keputusan menjadi dokter ini sebagai sebuah takdir. Ca gak akan berani untuk kuliah lagi ngambil jurusan yang dulu ca inginkan.

Sekarang pertanyaannya, bisakah ca jadi dokter yang ikhlas?

Koas sibuk dengan kegiatan 'berlatih' menjadi seorang dokter. Ca udah melewati bagian penyakit dalam, jantung, paru, anak, dan saraf. Tapi ca merasa, tidak sedikit pun ilmu menempel di otak ca. Apa karena sedikit hati ca belum ikhlas?

Novel 'Negeri 5 Menara' menyadarkan ca akan hal tersebut. Ikhlas itu penting. Ikhlas itu ridhonya Allah. Tengah malam ini ca bertahajud meminta kepada Allah, ikhlaskan hati ca untuk menjadi seorang dokter. Benar-benar ikhlas. Bukan demi mama, Ibuk, atau keluarga besar. Tapi demi diri ca sendiri.

Ca gak sabar menanti dua tahun lagi dan liat, jadi dokter sepert apa ca kelak.
Selain itu, udah gak sabar beli novel kelanjutan Negeri 5 Menara. Besok ke gramed ah :)

Selasa, Agustus 23

"Negeri 5 Menara", karya sastra anak Minang


Baru-baru ini ca membaca sebuah novel mengesankan yang membuat hati ca rindu kampung halaman. Novel tersebut berjudul “Negeri 5 Menara”. Novel in ca beli sekitar setahun yang lalu karena sedang ada diskon di toko buku (ca memang pencinta berat buku dan diskon, apalagi buku yang didiskon :p). Baru-baru ini setelah membersihkan kamar (yang terakhir kali ca lupa kapan pernah ngebersihinnya), ca nemuin novel itu di tumpukan textbook.

Kembali ke novel Negeri 5 Menara, novel tersebut bercerita tentang Alif, seorang anak dari daerah Maninjau Sumatera Barat, yang diminta ibunya untuk belajar di Pondok Pesantren madani jawa Timur. Seumur-umur Alif tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Ibunya ingin dia menjadi ahli agama seperti Buya Hamka, walaupun dalam hati Alif ingin jadi seperti Pak Habibie.

Namun, sebagai anak yang patuh pada orang tua, Alif mengikuti nasehat ibunya untuk menekuni ilmu agama di Pondok Pesantren Madani. Di hari pertama di Pondok Madani, Alif terkesima dengan mantera sakti “man jadda wajada”, Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia yang akan mendapat. Dipersatukan oleh hukuman jewer akibat terlambat pergi ke mesjid untuk salat, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Alif dan teman-teman diwajibkan berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris setelah 3 bulan tinggal di pondok. Subhanallah, Allah memang luar biasa, mereka berhasil berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris bahkan sebelum mereka sadar bahwa mereka bisa.

Selama bersekolah di pondok, Alif menerima surat dari Randai, temannya Alif yang bersekolah di SMA Bukittinggi. Dalam hati kecil Alif, ia cemburu karena temannya bisa bersekolah di SMA. Sampai tahun terakhir pun Alif masih gundah akan keputusannya masuk pondok. Hal itu disampaikannya kepada Ibunya. Ibunya sedih karena telah memaksa anaknya uuntuk masuk pondok, namun sang Ibu tetap berpendirian bahwa itulah yang terbaik untuk anaknya. Ayahnya juga memberikan gagasan agar alif menamtkan sekolahnya di pondok, dan kemudian nantinya baru menempuh ujian penyetaraan SMA.

Novel ini merupakan salah satu dari trilogi yang dibuat oleh A.Fuadi (A nya itu apa yah *wondering*).

Yang paling membuat ca terkesan, banyak kemiripan dalam hidup yang ca alami dengan jalan cerita di novel ini (tapi ca sih gak masuk pondok). Nanti saja dibahas di post selanjutnya.

Syukran, terimakasih sudah membaca :D